blog*spot
get rid of this ad | advertise here
editorial indicomic.com: Dalam Bayangan Manga

Thursday, October 28, 2004

Dalam Bayangan Manga

Benarkah komik Indonesia tidak ada lagi sekarang? Masalahnya, apakah yang disebut komik Indonesia itu? Jika yang dimaksud adalah komik yang dibuat oleh orang Indonesia, maka sebetulnya banyak juga komik Indonesia itu : bahkan termasuk yang sangat berkepribadian, dan karena itu mempunyai identitas yang mandiri. Dalam hal ini bisa saya sebut misalnya dua buku seri Tomat (“Perang” dan “Sakit”) karya Libra, nama samaran Rachmat Riyadi. Namun saya justru tertarik dengan fenomena komik Indonesia yang tidak berkepribadian dan tidak mempunyai identitas mandiri, yang dibuat para seniman komik yang tidak merasa bikin komik jika komiknya belum mirip sekali dengan komik-komik Jepang alias manga.

Kemampuan teknis para penganut gaya manga ini tinggi, artinya mereka mampu mewujudkan gambar-gambar yang canggih dan tampak sulit dibuat – tetapi dengan kemampuan setinggi itu, mereka dengan sadar justru meniru merupakan fenomena yang ajaib. Disebut fenomenal, karena kesadarannya begitu tinggi : di banyak tempat di Jakarta sudah terdapat kursus-kursus menggambar gaya manga, tentu bagi anak-anak dan remaja, yang mengingatkan kepada pertumbuhan kursus merangkai bunga gaya ikebana juga dari Jepang, untuk ibu-ibu, sekitar 40 tahun lalu. Selain kursus-kursus di berbagai kompleks perumahan, juga terdapat semacam “gerakan” untuk memasarkan komik-komik karya mereka ini, dalam berbagai bentuk pameran dan pasar buku – tetapi tidak seperti gerakan komik underground yang antikemapanan, gerakan ini justru mengukuhkan kemapanan itu.

Dengan begitu, jika para aktivis komik-komik underground Djokdja menggelar tikar dan mengeluarkan buku-buku fotokopi dari kardus, sebagai peredaran alternatif karena ditolak masuk toko buku Gramedia se-Indonesia, maka buku-buku manga fotokopi ini justru memperluas hegemoni komik dominan, memanfaatkan momentum kelarisan manga di pasar yang panas membara. Ternyata, fenomena ini juga terdapat di Jepang : terdapat komunitas komik yang berada di luar jalur penerbit-seniman-pasar, tetapi yang mempunyai jalur penerbit-seniman-pasar-nya sendiri, itulah komunitas para fans, yang begitu besar jumlahnya, sehingga cukup untuk membangun dunianya sendiri secara mandiri. Itulah komik-komik dojinshi (“fanziness”) yang dibuat oleh para fans untuk dibeli para fans sendiri – saya jadi ingat tahun ’70-an banyak juga anak-anak SMU meniru-niru gambar a la Jan Mintaraga atau Teguh Santosa, dan memang kedua macan komik Indonesia ini tak sedikit epigonnya.
Sekadar lebih rinci, seperti pernah diteliti Frederik L. Schodt dalam Dreamland Japan (2002), lingkaran komunitas ini disebut saakuru, yang dalam setiap konvensi tahunan saling menawarkan, antara lain, orijinaru (karya asli), aniparo (parodi atas karya-karya populer), ya-o-i (dari yama-nashi, ochi-nasi, imi-nashi, yang berarti tanpa klimaks, tanpa kalimat menohok, tanpa makna; karena mencomot tokoh komik populer untuk konteks lain semaunya, misalnya berhubungan sesama jenis). Dojinshi ini bisa bergaung, karena merupakan sebuah “pasar amatir” yang melibatkan sampai 50.000 eksemplar komik. Dengan begitu, bagi komunitasnya sendiri, yakni para otaku atawa fans berat manga, maka dojinshi ini sudah merupakan industri bagi dirinya sendiri. Setiap komikus amatir bisa memproduksi manga-nya sendiri, antara 100 sampai 6000 eksemplar, dan memasarkannya di konvensi tahunan itu. Di antara ribuan manusia yang memadati “pasar amatir” ini, tentu terselip para pemandu bakat yang mencari barang jualan baru, sebagai suntikan darah segar di pasar manga yang beneran, yang memang begitu tinggi frekuensi penerbitannya, dan karena itu selalu terancam kejenuhan.

Saya kira, meski “dojinshi Indonesia” teracukan sebagai fenomena sejenis, sama sekali belum mempunyai dampak ekonomi seperti di Jepang; tapi dampak budayanya tentu sangat menarik. Bisakah Anda bayangkan misalnya, bahwa telah terbit , buku How to Draw & Create Manga (sic!) misalnya, yang isinya sangat berguna untuk mempelajari teknik menggambar manga, yang dengan mudah akan kita sangka sebagai buku terjemahan dari Jepang, karena nama penulisnya “sangat Jepang”, tapi biodatanya menunjukkan bahwa Tatsu Maki lahir 6 Maret 1975 jam sepuluh pagi ketika hujan sedang lebat-lebatnya, bukan di Tokyo melainkan di Bandung tea?

Dalam berbagai diskusi, hegemoni komik Jepang dalam pertumbuhan masa kanak-kanak orang Indonesia sering dipertanyakan : tapi apakah anak-anak Indonesia hanya boleh melihat relief Borobudur? Bagi saya, lebih baik anak-anak ini tenggelam dalam manga yang imajinatif, bahkan data hasil risetnya tak main-main, seperti Eroica karya Riyoko Ikeda yang berkisah tentang kehidupan cinta Napoleon Bonaparte, daripada mulut mereka ternganga di depan iklan TV. Dunia ini dan diri kita memang merupakan situs pergulatan antarwacana : biarlah manga Jepang, film Hollywood, buku-buku sufi Mizan, dan wayang kulit di TV memperjuangkan ideologi mereka dalam pertumbuhan cakrawala setiap orang Indonesia, karena toh setiap orang dalam dirinya, tak terhindar untuk menjadi apa yang dikatakan Roland Barthes, “a plurality of other texts, of codes which are infinite or, more precisely, lost (whose origin is lost).”

Komik Indonesia, sejak zaman Nasroen A.S, R. A. Kosasih, Siauw Tik Wie, Kwik Ing Hoo, Abdul Salam, Ardisoma, Ratmoyo, sampai Hans Jaladara yang masih menggambar ulang Walet Merah (pertama kali terbit tahun 1969) dalam gaya manga tahun 2004 ini, tumbuh dalam silang sengkarut macam itu, silang sengkarut yang tidak usah dianggap membingungkan tapi memperkaya – dengan segala risikonya : kecuali kalau ingin hidup dalam tempurung. Bahwa kini manga dihayati kanak-kanak dan remaja sebagai “bagian dari Indonesia”, tak jauh berbeda dengan huruf Latin ini, yang sudah pasti bukan asli Indonesia, tapi apakah masih penting asalnya darimana? Yang penting adalah bagaimana menggunakannya – untuk ngibul atau untuk mencerahkan dunia.

Seno Gumira Ajidarma

-------------------

tanggapan:

basbang deh, alias basi banget. Gambar sangat melayu apanya ?
bandingkan dengan DC / Marvel golden age deh .....apa yg salah
dengan setting fantasi ? btw komik dua warna tuh bersetting di indo,
urban pula..begitu juga dengan beberapa komik lokal lain, banyak
yang bersetting urban yang menurut saya jauh lebih susah
perspektifnya ketimbang menggambar pemandangan alam :P

apalagi angle camera komik sekarang jauh lebih rumit, ada aerial
shot dsb dsb...


emangnya gambar anatomi manga gak bisa bersetting naik bajaj ?
btw bukannya komik dua warna itu semi fantasi / klenik lokal ? :o
top cow sih, tapi lumayan nyetel kok :-)


kalo identitas bangsa ? ..coba bikin komik stylenya seperti relief
di candi prambanan ... :-)


Trus aku sempat posting juga tentang hal ini di milis MKI, cuma
karena panjang nggak kumasukkin ^^;;
Intinya : budaya & ngomik itu proses, tinggal bagaimana kita bisa
membaca informasi yang kita dapat & mencerap intisarinya supaya bisa
bikin nyang "beda" dengan apa yg kita cerap. "Beda" itu dari apa yg
kita amati sebagai orang Indonesia & hidup sebagai orang Indonesia.


Rizki (aragorn@telkom.net)

-----------------------

seno ya,mlucunya padahal dulu dia pernah ngomong pada diskus komi di
mana gitu, gw masih nyimpen makalahnya, bahwa yg penting bikin
komiknya dan anak2 tak perlu di pe em pati soal keindonesiaan....

kenapa sekarang dia mulai gerah dgn kemangaan?
dan tanpa disadari juga mulai meng pe em pati komikus lokal?


an_calas" (an_calas@yahoo.com)

--------------------------

apa memangnya komikus jaman dulu dapet referensi gambarnya dari sana?
gw kebetulan mengenal sedikit komik jaman dulu khususnya Man, gaya
gambar-nya jelas pengaruh dari Ganesh, pada awalnya malah kadang
terlalu mirip tekniknya, Ganesh sendiri berguru pada Siaw Tik Kwie,
ganesh bisa lepas dari bayang2 gurunya itu, dan Man pun sudah berubah
jauh dari Man yg dulu.


kalau komik2 medan, pernah di kasi liat ma temen di jakarta yg orang
batak dan punya sedikit koleksi, taguan harjo, djas, Zam nuldyen,
ketiganya punya teknik yg berlainan, dan ga ada yg anatominya ataupun
raut wajahnya spt orang 'barat' yg digambarkan oleh DC/Marvel.

pernah sih, liat teknik gambar yg 'conan' abis, tp yg itu komikus
kelas dua, dan ceritanya pun terlalu conan-conanan.


Ken Arok dan Ken Dedes di komikkan dgn gaya gambar manga?
Gaya manga siapa dulu? kalo memang mangaka Jepang-nya pengen
ngegambarin cerita komik indo dan pake gaya manga dia, jelas itu
bagus. kombinasi manga jepang dgn cerita indonesia.
tapi kl cerita indonesia, bersetting indonesia, digambar oleh anak
indonesia, tp teknik dan gaya manga .... bakalan seperti apa ya
cerminannya di publik nanti?


ada yg sudah pernah nyoba bikin?
misalnya legenda2 cerita rakyat, dongengnya, dibuat dalam model
manga, kita coba aja pasarkan dan ngeliat respon masyarakat, kan yg
beli mereka, merekalah yg memutuskan bisa menerima atau tidak.
tapi cuma kuatir aja, dulu kan pernah ada komik DS group yg cerita
silat, meniru Chinmi (katanya) tp ga terlalu mirip, cuma gaya manga-
nya campur sari manga sana-sini, hasilnya respon pasar biasa saja,
sekarang pun oleh generasi penggila manga pun nyaris tak ada ingat.

manga oh manga...

an_calas@yahoo.com

3 Comments:

Anonymous Anonymous said...

Manga....oh.....manga... :)
cuman manga jepang yg terbaik di dunia.

July 28, 2005 5:55 PM  
Blogger sanggar artistika said...

kalo mau bisa gambar manga yang baik harus punya dasar yang gambar yang kuat. punya kemauan yang kuat. bakat kalo malas sama aja boong.
cari team guru yang udah berpengelaman.


www.leslukis.co.cc

February 8, 2009 8:05 PM  
Blogger neina said...

komentar 'cuma manga jepang yang terbaik di dunia', itu subjektif juga ya...

memang kalo dari segi gambar ada yg bilang 'ikutin aja relief candi borobudur', lah, candi borobudur juga kan pengaruh dari relief indianya masih kuat..

masalahnya bagus-enggaknya komik indonesia itu ga dibatasi sama teknik gambar, gaya gambar, cerita atau apalah, tapi yang sekarang sedang dibahas itu kan masalah hilangnya 'kepribadian' komikus di indonesia (yang saya lihat justru dari konten filosofis dlm ceritanya), salah satunya ya dengan masuknya komik sana-sini - ya gambarnya atau karakter cerita. Kan juga dituliskan "dengan segala risikonya: kecuali kalau ingin hidup dalam tempurung" atau bila disederhanakan lagi 'bayang-bayang karakter yang udah dipakem dari negara lain', sehingga kalau misalnya ada orang negara lain yg liat komik indonesia ga langsung mikir, 'ah ini komik dari jepang karena gayanya manga'.

hal ini ga terjadi di indonesia saja sih, di amerikapun sama, sedangkan untuk di eropa (prancis) yang sudah banyak mengadopsi gaya gambar manga ternyata ga ngambil pusing masalah karakter 'prancis' mereka. mungkin karena gaya penceritaannya dan pendalaman karakter dan cerita komik2 mereka sudah sangat 'prancis'..

March 21, 2009 8:52 AM  

Post a Comment

<< Home